Wednesday, April 13, 2011

Di Somalia Perompak Sudah Jadi Profesi

Di Somalia Perompak Sudah Jadi Profesi-Drama penyanderaan 20 anak buah kapal MV Sinar Kudus oleh para perompak di perairan Somalia sejak pertengahan Maret lalu hingga kini masih belum berakhir.

Negosiasi antara pemerintah RI dengan para perompak yang menuntut tebusan sekira USD3 juta atau setara Rp2,6 miliar (Rp8.677 per USD) masih belum membuahkan hasil. Perairan Somalia selama ini memang seolah menjadi momok bagi para pelaut, mulai kapankah situasi ini terjadi?

Berikut wawancara dengan staf khusus presiden bidang luar negeri yang juga mantan juru bicara Kementerian Luar Negeri, Teuku Faizasyah di Jakarta, Rabu (13/4/2011). “Di sana (Somalia) sejak akhir 2000-an sudah banyak sekali kasus perompakan,” ujarnya.

Apa penyebab maraknya aksi perompakan di perairan Somalia?

Sejak akhir 1990-an pemerintahan di Somalia tidak efektif mengendalikan situasi keamanan di seluruh wilayahnya. Praktis pemerintah hanya bisa mengontrol daerah Ibu Kota dan sekitarnya saja. Sementara untuk wilayah pedalaman dan pesisir dikuasai para milisi bersenjata. Di sana kan terjadi perang saudara. Para milisi inilah yang kemudian banyak beralih menjadi perompak.

Apakah merompak menjadi aktivitas untuk mendanai organisasi para milisi tersebut?

Saya kurang tahu informasinya. Yang jelas merompak di sana seolah sudah jadi profesi. Karena mereka ada ahli negosiasi, ada yang mengelola keuangan, ada yang bertugas sebagai pembajak, jadi sudah persis seperti profesi. Merompak sudah menjadi semacam jalan pintas bagi mereka.

Mengapa kapal berbendera Indonesia dijadikan target?

Sebetulnya mereka tidak memandang kapal milik siapa. Mereka membajak apa saja yang lewat, jadi tidak ada pilih memilih, kapal yang bisa dibajak dengan kemampuan yang mereka miliki ya dibajak.

Sudah pernah terjadi ke kapal berbendera Italia, Korea, Malaysia, beragam korbannya. Kali ini kapal berbendera Indonesia.

Sampai sejauh ini sudah pernahkah ada sandera perompak Somalia yang dilukai atau dibunuh?

Sejauh ini saya tidak pernah mendengar ada sandera yang dilukai, karena sandera merupakan alat bargaining mereka.

Apalagi warga kita yang ditahan yang dulu-dulu. Mereka diperlakukan dengan baik, salah satunya karena ada fator kesamaan agama.

Jadi ini bukan kali pertama pemerintah bernegosiasi dengan perompak?

Bukan, silakan dicek di situs Kemlu. Seingat saya ini sudah yang keempat kalinya. Selama ini kami bisa mengelola dengan baik, melalui berbagai upaya bisa kita selamatkan, yang sekarang ini agak berbeda karena diekspos media besar-besaran.


Sumber

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...