Kini Video Chat Bisa Lewat Facebook-SocialEyes memungkinkan pengguna Facebook melakukan percakapan video antar individu atau kelompok. Layanan ini diluncurkan Senin kemarin.
Sebuah versi uji SocialEyes memulai debutnya di California pada konferensi DEMO untuk pemula teknologi. Layanan ini secara online di socialeyes.com atau apps.facebook.com/socialeyes.
SocialEyes digambarkan sebagai versi yang lebih beradab dari Chatroulette yang secara acak menghubungkan pengguna video chat di satu layanan yang terkenal sebagai panggung mesum oleh orang asing.
Pengguna SocialEyes bisa masuk menggunakan ID Facebook dan dapat terhubung dengan teman-teman yang dikenal atau komunitas online yang memiliki minat sama.
“SocialEyes membawa pengalaman jejaring sosial ke tingkat berikutnya dengan memungkinkan orang terhubung dengan jaringan dan bertemu orang yang memiliki minat sama melalui komunikasi tatap muka atau pesan video,” kata pendiri layanan itu, Rob Williams.
SocialEyes berbasis San Francisco itu didirikan oleh Williams dan Rob Glaser. Layanan itu telah mendapat pendapatan US$ 5,1 juta (Rp 45 miliar) dan bermula dari US$ 600 ribu (Rp 5,2 miliar) dari investasi ‘malaikat’ independen dan sisanya dari putaran pendanaan yang dipimpin Ignition Partners.
“Internet membawa kita lebih dekat tapi SocialEyes membawa jejaring sosial ke tingkat yang baru dengan menghubungkan Anda secara tatap muka dengan orang, bukan username,” kata eksekutif produser DEMO Matt Marshall. “Hal ini benar-benar mengubah cara kita berkomunikasi dan bertemu orang baru”.(inilah.com)
|
|
|
Wednesday, March 2, 2011
Perempuan Pesaing Zuckerberg
Perempuan Pesaing Zuckerberg-Catherine Cook mengeluh soal pilihan foto di buku tahunan sekolahnya saat ide jejaring sosial muncul. Mendirikan Myyearbook.com selama enam tahun, perempuan ini siap bersaing dengan Mark Zuckerberg.
Siapa yang tidak mengenal Mark Zuckerberg. Pria berusia 26 tahun yang menempuh pendidikan di Harvard University saat menciptakan jejaring sosial Facebook dengan lebih dari 500 juta pengguna. Kini, ia punya pesaing.
Catherine Cook bersama dengan saudara laki-lakinya, David, menciptakan situs jejaring sosial menggunakan komputer di kamar tidurnya selama enam tahun. Ia berhasil merebut perhatian 25 juta pengguna di Amerika Serikat. Bahkan, Myyearbook.com merupakan salah satu dari 25 situs terbaik di AS.
Berusia 21 tahun, perusahaan Catherine dengan 12 pegawai pengembang perangkat lunak ini memiliki nilai sekitar US$20 juta (Rp 180 miliar). Kesuksesannya seringkali dibandingkan dengan pendiri Facebook, Mark Zuckerberg.
“Ini terjadi begitu cepat. Satu menit, kami saling bertukar ide kemudian menerima investasi sebesar US$250 ribu (Rp 2,2 miliar),” ujar Catherine yang kini mengemban ilmu di Georgetown University.
Berbicara soal inspirasi, Catherine mengakui ia awalnya tidak menyukai buku tahunan mereka. “Suatu hari di 2005, saya dan saudara lak-laki saya, David, saling bercerita soal betapa bencinya kami atas foto di buku tahunan itu.”
Selanjutnya, C menjadi semacam buku tahunan online yang membuat seseorang dapat berinteraksi dengan orang lain berdasarkan lembaga pendidikan mereka.
Catherine dan David meluncurkan situs itu dari rumah mereka di Skillman, New Jersey, Amerika Serikat, setelah merekrut tim pengembang dari Mumbai, India. Kini, perusahaan mereka pindah ke ruangan lebih besar di kawasan perkantoran di New Hope, Pennsylvania.
Apakah mereka akan sesukses Facebook?(inilah.com)
Siapa yang tidak mengenal Mark Zuckerberg. Pria berusia 26 tahun yang menempuh pendidikan di Harvard University saat menciptakan jejaring sosial Facebook dengan lebih dari 500 juta pengguna. Kini, ia punya pesaing.
Catherine Cook bersama dengan saudara laki-lakinya, David, menciptakan situs jejaring sosial menggunakan komputer di kamar tidurnya selama enam tahun. Ia berhasil merebut perhatian 25 juta pengguna di Amerika Serikat. Bahkan, Myyearbook.com merupakan salah satu dari 25 situs terbaik di AS.
Berusia 21 tahun, perusahaan Catherine dengan 12 pegawai pengembang perangkat lunak ini memiliki nilai sekitar US$20 juta (Rp 180 miliar). Kesuksesannya seringkali dibandingkan dengan pendiri Facebook, Mark Zuckerberg.
“Ini terjadi begitu cepat. Satu menit, kami saling bertukar ide kemudian menerima investasi sebesar US$250 ribu (Rp 2,2 miliar),” ujar Catherine yang kini mengemban ilmu di Georgetown University.
Berbicara soal inspirasi, Catherine mengakui ia awalnya tidak menyukai buku tahunan mereka. “Suatu hari di 2005, saya dan saudara lak-laki saya, David, saling bercerita soal betapa bencinya kami atas foto di buku tahunan itu.”
Selanjutnya, C menjadi semacam buku tahunan online yang membuat seseorang dapat berinteraksi dengan orang lain berdasarkan lembaga pendidikan mereka.
Catherine dan David meluncurkan situs itu dari rumah mereka di Skillman, New Jersey, Amerika Serikat, setelah merekrut tim pengembang dari Mumbai, India. Kini, perusahaan mereka pindah ke ruangan lebih besar di kawasan perkantoran di New Hope, Pennsylvania.
Apakah mereka akan sesukses Facebook?(inilah.com)
Labels:
Tahukah Anda
Kenapa Wanita Jepang Kurus-kurus? Ternyata Ini Rahasianya
Kenapa Wanita Jepang Kurus-kurus? Ternyata Ini Rahasianya-Banyak teman-teman saya di Indonesia yang bertanya, "kenapa ya cewek jepang kok kebanyakan pada kurus-kurus gitu?" Mereka beranggapan seperti itu sepertinya karena kebanyakan dari mereka melihat wanita Jepang yang ada di film-film drama saja. Kalau itu sih emang iya... jelas kurus-kurus dan cantik-cantik, kalau nggak gitu mana laku filmnya untuk ditonton. Memang sepertinya saat ini memiliki badan kurus dan ramping super singset cukup jadi trend di kalangan wanita Jepang. Sebuah trend yang sepertinya bukan hanya di Jepang saja, tapi sudah mengglobal di seluruh dunia. Ada anggapan bahwa wanita kurus itu lebih baik dan cantik secara penampilan dibandingkan dengan wanita yang gemuk.
Saking mengglobalnya trend kurus ini, sampai ada dalam salah satu dorama Jepang yang judulnya "Teppan Girl Akane" dalam salah satu episodenya menceritakan tentang diadakannya perlombaan wanita paling kurus yang diadakan di salah satu SMA. Pesertanya diwajibkan memenuhi beberapa kriteria untuk bisa memenangkan perlombaan tersebut. Di antaranya mereka harus bisa melalui sebuah lubang berbentuk huruf "O" yang diameternya hanya 40 cm. Kemudian berat badan mereka tidak boleh melebihi 43 Kg. Untuk mengikuti dan berusaha memenangkan lomba tersebut, akhirnya banyak remaja-remaja Jepang yang berusaha mati-matian untuk melakukan diet makanan. Sampai bahkan ada yang tidak makan selama seharian demi mengurangi berat badan mereka.
Anggapan teman saya di atas tadi tentang persentase wanita Jepang yang lebih banyak yang kurusnya daripada yang gemuk memang tidak sepenuhnya salah. Tapi bukan berarti juga tidak ada yang gemuk, atau yang gemuk jumlahnya sedikit sekali. Walaupun memang selama saya tinggal di Jepang, rasa-rasanya jarang melihat ada wanita Jepang yang gemuk, walaupun dia masih remaja atau sudah menjadi orang tua.
Berdasarkan data statistik terbaru yang dikeluarkan tim Internasional tentang masalah kegemukan di negara-negara maju, ternyata memang menunjukkan bahwa Jepang adalah negara dengan angka paling rendah (hanya 3%). Sedangkan yang paling tinggi adalah Amerika Serikat sebesar 34%. Selain itu, di data itu juga disebutkan bahwa rata-rata umur wanita Jepang tergolong paling tinggi yang mencapai usia 85%.
Hal ini sepertinya akan menarik jika kita bahas. Pertama, jika kita lihat dari taraf kecintaan orang Jepang terhadap makanan, dengan presentasi kegemukan yang rendah adalah sangat mengherankan. Sehingga kita bisa mengira-ngira mungkin rahasianya ada di jumlah kalori makanan dan minuman yang kecil yang biasa mereka konsumsi. Orang Jepang umumnya tidak terlalu mementingkan rasa dari berbagai macam bumbu campuran, tetapi mereka lebih mengutamakan kesegaran dari makanan tersebut. Kebudayaan dan tradisi Jepang mendorong untuk menghargai 'Kesegaran Yang Paling Utama', maka dari itu perempuan Jepang senang membeli banyak ikan, sayur mayur, dan buah-buahan sejenisnya. Sedangkan daging merah, kembang gula, biskuit, dan bahan makanan cemilan dibeli lebih sedikit. Makanya, kalau teman-teman memakan makanan Jepang yang asli (dalam artian tidak diubah menjadi selera orang Indonesia seperti yang dijual di Hoka-Hoka Bento atau restoran-restoran makanan Jepang lainnya di Indonesia), teman-teman tidak akan menemukan beraneka ragam rasa di sana. Umumnya kita hanya akan merasakan rasa asin dan manis yang dominan, bahkan terkadang malah hambar dan tidak ada rasa tambahan selain rasa asli dari bahan baku makanan tersebut.
Salah satu contoh yang pernah saya rasakan sendiri mengenai budaya pengontrolan kalori yang biasa dilakukan orang Jepang adalah ketika saya makan di kantin kampus. Kantin di kampus saya menyediakan berbagai macam menu makanan dan minuman yang seimbang. Yang menjadi unik adalah, ternyata di setiap tulisan daftar nama makanan atau minumannya itu tertulis daftar kandungan kalori per gram di tiap makanan tersebut. Sehingga ini membuat kita bisa menghitung berapa kalori yang akan atau sudah kita konsumsi.
Kemudian, kalau kita melihat pola arsitektur rumah-rumah di Jepang, umumnya ukuran dapur itu tidak ada yang besar. Coba bandingkan dengan ukuran dapur rumah-rumah di Eropa atau Amerika, umumnya sampai memakan space yang sangat luas. Penggunaan ruang dapur yang minimalis oleh orang Jepang ini barangkali berpengaruh pada frekuensi dan jumlah makanan yang disimpan di dapur. Karena mereka tidak memiliki ruang yang cukup luas, jadi umumnya frekuensi mereka untuk membeli sayuran yang segar lebih sering. Sebaliknya, kalau di Amerika dan Eropa, penduduknya senang membeli bahan makanan sekali dalam seminggu lalu disimpan dalam lemari pendingin.
Alasan kedua yang mungkin dapat mendorong wanita Jepang memiliki badan yang ramping adalah adanya semacam ungkapan yang dikenal masyarakat Jepang yaitu "makan nasi sebaiknya dimakan delapan butir sampai kenyang". Maksud dari ungkapan ini adalah sebaiknya tidak makan sampai terlalu kenyang. Selain itu, bobot bahan makanan yang berbeda dari daerah barat dan timur juga merupakan salah satu alasan yang penting.
Kalau kita perhatikan pola makan orang barat, bobot bahan makanan yang suka mereka konsumsi, dari tahun ke tahun makin lama makin meningkat. Sehingga inilah yang pada akhirnya menyebabkan angka kegemukan di negara-negara barat lebih tinggi. Sedangkan kalau di Jepang, penduduknya melakukan hal yang lebih baik. Orang Jepang rata-rata setiap harinya menyerap 2700 kalori, namun orang Amerika rata-rata setiap hari menyerap 3700 kalori, perbedaan antara keduanya 1000 kalori."
Pola makan orang Jepang sepertinya memang telah terpengaruh oleh sikap dan cara aliran Zen di Negara China terhadap bahan makanan, "Memilih bahan yang paling segar, memasak dengan hati yang semangat." Saat menyantap nasi jangan melahap dengan rakus, pada saat menikmati makanan yang lezat, masih harus belajar cara untuk menghargai keindahan. Penampilan yang indah adalah sumber dari kehidupan memasak orang Jepang.
Alasan ketiga yang dapat mendukung wanita Jepang memiliki tubuh kurus adalah mungkin dikarenakan kebiasaan mereka untuk beraktifitas fisik dalam skala yang cukup sering dan besar. Di samping budaya dan etos kerja mereka yang sangat tinggi, orang Jepang itu sangat suka berjalan kaki dan mengendarai sepeda. Makanya kalau kita ada di Jepang pada jam-jam masuk kerja atau sekolah, biasanya kita akan sering berada dalam kerumunan orang-orang yang berjalan dengan cepat di pinggir-pinggir jalan atau di stasiun-stasiun kereta sedang bergegas ke kantor atau sekolah mereka masing-masing.
Jadi... bisa kita tarik kesimpulan, bahwa ternyata ada beberapa faktor yang bisa mendorong dan memberikan kita jawaban mengapa orang Jepang, atau wanita Jepang pada khususnya memiliki tubuh ramping dan jauh dari kegemukan. Ternyata hal itu dikarenakan makanan minuman dan cara hidup, masyarakat yang akrab dan membentuk semangat jiwa, sistem pemeliharaan kesehatan yang maju, selain itu, kemungkinan masih ada sedikit unsur turun temurun juga olah tubuh.
Sumber
Labels:
Kesehatan,
Tahukah Anda
Subscribe to:
Posts (Atom)


